'], ['t2._trackPageview'], ['t2._trackPageLoadTime'] ); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();

Contoh Proposal Seminar I (revisi1)

Contoh Proposal Seminar I (revisi1) logo-upi-yai

1.1 Latar Belakang Masalah

 Dunia industri yang terus berkembang di Indonesia, menimbulkan suatu persaingan bisnis di dunia industri yang cukup ketat, salah satunya dalam persaingan industri minuman. Dalam menghadapi persaingan industri tersebut, suatu perusahaan memerlukan adanya manajemen yang baik, dalam arti mampu menciptakan efektifitas dan efisiensi aktifitas produksi khususnya produksi minuman teh dalam kemasan botol di PT Sinar Sosro KPB Cakung.

PT Sinar Sosro KPB Cakung merupakan salah satu anak perusahaan dari Grup Rekso yang beraktifitas dalam produksi minuman khususnya teh siap saji dalam kemasan. Teh botol Sosro yang telah di patenkan namanya oleh PT Sinar Sosro ini terdiri dari bahan baku teh melati yang sudah dikeringkan, gula industri dan air baku. Teh melati tersebut merupakan campuran antara teh, bunga melati dan bunga gambir, sehingga menciptakan suatu aroma yang khas. Dimana bahan baku teh tersebut didatangkan dari perkebunan teh yang ada di pegunungan Jawa Barat.

Perbedaan jarak yang membutuhkan waktu distribusi yang tidak sebentar tersebut menjadikan perusahaan membutuhkan pengendalian produksi guna membantu kelancaran proses maupun perencanaan produksi. Dengan begitu, dalam suatu perencanaan produksi guna mencapai kinerja produksi yang optimal, diperlukan adanya salah satu manajemen yang mengendalikan aktifitas persediaan.

1.2 Perumusan Masalah

Perumusan permasalahan yang terjadi di PT Sinar Sosro adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana proses produksi Teh Botol Sosro di PT Sinar Sosro
  2. Bagaimana pengendalian persediaan bahan baku dalam perencanaan produksi Teh Botol Sosro di PT Sinar Sosro

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah melihat secara langsung proses produksi pembuatan Teh Botol Sosro dan mengamati pengendalian persediaan bahan baku produksi Teh Botol Sosro dengan menggunakan metode EOQ dan EPQ.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan pengamatan terhadap hasil produksi selama 2 tahun terakhir
  2. Melakukan pengamatan terhadap pengendalian persediaan yang ada di PT Sinar Sosro

1.4 Pembatasan Masalah

 Untuk menghindari melebarnya bahasan dari tujuan yang ingin diambil, maka dibuat batasan-batasan masalah sebagai berikut :

  1. Penelitian difokuskan pada pengendalian persediaan bahan baku dan persediaan produk Teh Botol Sosro.
  2. Penelitian menggunakan metode Q model Economy Order Quantity (EOQ) sederhana dan model Economy Product Quantity (EPQ).
  3. Dalam penelitian ini aspek biaya diabaikan.

1.5       Metode Pengumpulan Data

Dalam melakukan pengumpulan data, penulis mengumpulkan dan mencari sumber data melalui teknik-teknik, seperti :

  1. Riset Perpustakaan (Library Research), yaitu riset yang dilakukan melalui buku-buku, majalah, literatur, diktat, dan sumber data lainnya di dalam perpustakaan yang dapat digunakan sebagai landasan teori.
  2. Riset Lapangan (Field Research), yaitu riset yang dilakukan pada suatu obyek untuk memperoleh data yang relevan dengan topik yang penulus kerjakan. Teknik ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu :

a)      Wawancara

Dilakukan secara langsung dengan pihak-pihak berwenang yang bersangkutan pada PT Sinar Sosro unit Cakung untuk memperoleh informasi mengenai teknik data-data perusahaan maupun data-data produksi.

b)      Observasi

Dilakukan dengan cara mengamati secara langsung pelaksanaan produksi yang dilakukan PT Sinar Sosro unit Cakung seperti pelaksanaan proses produksi dan mengamati persediaan barang yang ada di gudang.

c)      Dokumentasi

Merupakan pengumpulan data yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, antara lain data berupa proses produksi, struktur organisasi, data jumlah unit yang diproduksi.

1.6       Teori Yang Digunakan

1.6.1    Proses Produksi dan Sistem Produksi

 

1.6.2    Pengendalian Persediaan

 Secara umum, persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan adalah komponen material, atau produk jadi yang tersedia di tangan, menunggu untuk digunakan atau dijual (Groebner, Introduction to Management Science, 1992)

Persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in process), barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan (Riggs, 1976). Definisi persediaan yang digunakan buku Perencanaan dan Pengendalian Produksi adalah definisi terakhir, hal ini berhubungan dengan metode pengendalian persediaan yang akan dibahas adalah metode pengendalian persediaan untuk item fisik.

Secara fisik, item persediaan dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu sebagai berikut :

  1. Bahan mentah (raw material), yaitu barang-barang berwujud seperti baja, kayu, tanah liat, atau bahan-bahan mentah lainnya yang diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari pemasok, atau diolah sendiri oleh perusahaan untuk digunakan perusahaan dalam proses produksinya sendiri.
  2. Komponen, yaitu barang-barang yang terdiri atas bagian-bagian (parts) yang diperoleh dari perusahaan lain atau hasil produksi sendiri untuk digunakan dalam pembuatan barang jadi atau barang setengah jadi.
  3. Barang setengah jadi (work in process) yaitu barang-barang keluaran dari tiap operasi produksi atau perakitan yang telah memiliki bentuk lebih kompleks daripada komponen, namun masih perlu proses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi.
  4. Barang jadi (finished good) adalah barang-barang yang telah selesai diproses dan siap untuk didistribusikan ke konsumen.
  5. Bahan pembantu (supplies material) adalah barang-barang yang diperlukan dalam proses pembuatan atau perakitan barang, namun bukan merupakan komponen barang jadi. Termasuk bahan penolong adalah bahan bakar, pelumas, listrik dan lain-lain.

Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini (20% sampai 60%). Ini merupakan dilema bagi perusahaan. Bila persediaan dilebihkan, biaya penyimpanan dan modal yang diperlukan akan bertambah. Bila perusahaan ,emama, terlalu banyak modalnya dalam persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan. Kelebihan persediaan juga membuat modal menjadi mandek, semestinya modal tersebut dapat diinvestasikan pada sektor lain yang lebih menguntungkan (oppotunity cost). Sebaliknya, bila persediaan dikurangi, suatu ketika bisa mengalami stock out (kehabisan barang). Bila perusahaan tidak memiliki persediaan yang mencukupi, biaya pengadaan darurat akan lebih mahal. Dampak lain, mungkin kosongnya barang dipasaran dapat membuat konsumen kecewa dan lari ke merek lain.

Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut :

  1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila brang tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan.
  2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat : permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun waktu kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena banyak daktor yang tak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.
  3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga di masa mendatang.

Efisiensi produk (salah satu muaranya adalah penurunan biaya produksi) dapat ditingkatkan melalui pengendalian sistem persediaan. Efisiensi ini dapat dicapai bila fungsi persediaan dapat dioptimalkan. Beberapa fungsi persediaan adalah sebagai berikut :

  1. Fungsi independensi. Persediaan bahan diadakan agar departemen-departemen dan proses individual terjaga kebebasannya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang tidak pasti. Permintaan pasar tidak dapat diduga dengan tepat, demikian pula dengan pasokan dari pemasok. Seringkali keduanya meleset dari perkiraan. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa tergantung pada kedua ini (independen), maka persediaan harus mencukupi.
  2. Fungsi ekonomis. Seringkali dalam kondisi tertentu, memproduksi dengan jumlah produksi tertentu (lot) akan lebih ekonomis daripada memproduksi secara berulang atau sesuai permintaan. Pada kasus tersebut (dan biaya set up besar sekali ), maka biaya set up ini mesti dibebankan pada setiap unit yang diproduksi, sehingga jumlah produksi yang berbeda membuat biaya produksi per unit juga akan berbeda, maka perlu ditentukan jumlah produksi yang optimal. Jumlah produksi optimal pada kasus ditentukan oleh struktur biaya set up dan biaya penyimpanan, bukan oleh jumlah permintaan, sehingga timbullah persediaan. Pada beberapa kasus, membeli dengan jumlah tertentu juga akan lebih ekonomis ketimbang membeli sesuai kebutuhan. Jadi, memiliki persediaan-dalam beberapa kasus- bisa merupakan tindakan yang ekonomis.
  3. Fungsi antisipasi. Fungsi ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan permintaan atau pasokan. Seringkali perusahaan mengalami kenaikan permintaan setelah dilakukan program promosi. Untuk memenuhi hal ini, maka diperlukan sediaan produk jadi agar tak terjadi stock out. Keadaan yang lain adalah bila suatu ketika diperkirakan pasokan bahan baku akan terjadi kekurangan. Jadi, tindakan persediaan bahan baku terlebih dahulu adalah merupakan tindakan rasional.
  4. Fungsi fleksibilitas. Bila dalam proses produksi terdiri atas beberapa tahapan proses operasi dan kemudian terjadi kerusakan pada suatu tahapan proses operasi, maka adalah diperlukan waktu untuk melakukan perbaikan. Berarti produk tidak akan dihasilkan untuk sementara waktu. Sediaan barang setengah jadi (work in Process) pda situasi ini akan merupakan faktor penolong untuk kelancaran proses operasi. Hal lain adalah dengan adanya sediaan barang jadi, maka waktu untuk pemeliharaan fasilitas produksi dapat disediakan dengan cukup.

Sistem Persediaan

 Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan-masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi output, di mana untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme sistem itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan dan biaya kekurangan persediaan.

Variabel keputusan dalam pengendalian persediaan tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif, variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut :

  1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat.
  2. Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan
  3. Berapa jumlah persediaan pengaman
  4. Bagaimana mengendalikan persediaan

Secara kualitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai berikut :

  1. Jenis barang apa yang dimiliki
  2. Dimana barang tersebut berada
  3. Berapa jumlah yang sedang dipesan
  4. Siapa saja yang menjadi pemasok masing-masin item.

Biaya Persediaan

 Biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan keruguan yang timbul sebagai akibat persediaan. Biaya tersebut adalah harga pembelian, biaya pemesanan, biaya penyiapan, biaya penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan.

  1. 1.Harga pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, besarnya sama dengan harga perolehan sediaan itu sendiri atau harga belinya. Pada bebrapa model pengendalian sistem persediaan, biaya tidak dimasukkan sebagai dasar untuk membuat keputusan.
  2. Harga pemesanan adalah biayayang harus dikeluarkan untuk melakukan pemesanan ke pemasok, yang besarnya biasanya tidak dipengaruhi oleh jumlah pemesanan. Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari pemasok. Biaya ini meliputi biaya pemrosesan pesanan, biaya ekspedisi, upah, biaya telepon/fax, biaya dokumentasi/transaksi, biaya pengepakan, biaya pemeriksaan, dan biaya lainnya yang tidak tergantung jumlah pesanan.
  3. Biaya penyiapan (set up cost) adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi. Biaya ini terjadi bila item sediaan diproduksi sendiri dan tidak membeli dari pemasok. Biaya ini meliputi biaya persiapan peralatan produksi, biaya mempersiapkan/menyetel (set-up) mesin, biaya mempersiapkan gambar kerja, biaya mempersiapkan tenaga kerja langsung, biaya perencanaan dan penjadwalan produksi, dan biaya-biaya yang besarnya tidak tergantung pada jumlah item yang diproduksi.
  4. Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan dalam penanganan/penyimpanan material, semi finished product, sub assembly, atau pun produk jadi. Biaya simpan tergantung dari lama penyimpanan dan jumlah yang disimpan. Biaya simpan biasanya dinyatakan dalam biaya per unit periode. Biaya penyimpanan meliputi berikut ini :

a.  Biaya kesempatan. Penumpukan barang di gudang berarti penumpukan modal. Padahal modal ini dapat diinvestasikan pada tabungan bank atau bisnis lain. Biaya modal merupakan opportunity cost yang hilang karena menyimpan persediaan.

b. Biaya simpan. Termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa gudang, biaya asuransi dan pajak, biaya administrasi dan pemindahan, serta biaya kerusakan dan penyusutan.

c.  Biaya keusangan. Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai karena perubahan teknologi (misal komputer).

d. Biaya-biaya lain yang besarnya bersifat variabel tergantung pada jumlah item.

  1. Biaya kekurangan persediaan. Bila perusahaan kehabisan barang saat ada permintaan maka akan terjadi stock out. stock out menimbulkan kerugian berupa biaya akibat kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan atau kehilangan pelanggan yang kecewa (yang pindah ke produk pesaing). Biaya ini sulit diukur karena berhubungan dengan good will perusahaan. Sebagai pedoman, biaya stock out dapat dihitung dari hal-hal berikut :
    1. Kuantitas yang tak dapat dipenuhi, biasanya diukur dari keuntungan yang hilang karena tidak dapat memenuhi permintaan. Biaya ini diistilahkan sebagai penalti atau hukuman kerugian bagi perusahaan.
    2. Waktu pemenuhan. Lamanya gudang kosong berarti lamanya proses produksi terhenti atau lamanya perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, sehingga waktu menganggur tersebut dapat diartikan sebagai uang yang hilang.
    3. Biaya pengadaan darurat. Agar konsumen tidak kecewa, maka dapat dilakukan pengadaan darurat yang biasanya menimbulkan biaya lebih besar ketimbang biaya pengadaan normal.

Metode Q

 Dikatakan metode Q karena variabel keputusan dalam metode ini adalah Q (yang menotasikan kuantitas) pesanan. Kriteria optimal adalah total biaya persediaan yang minimal. Metode ini terdiri atas banyak model, seperti berikut :

Model Economic Order Quantity (EOQ) Sederhana

 Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford harris dari westinghouse pada tahun 1915. Metode ini merupakan insiprasi bagi para pakar persediaan untuk mengembangkan metode-metode pengendalian persediaan lainnya. Metode ini dikembangkan atas fakta adanya biaya variabel dan biaya tetap dari proses produksi atau pemesanan barang.

Jika suatu barang dipesan dari pemasok, berapa pun jumlah barang yang dipesan, biaya pemesanan (telepon, pengiriman, administrasi, dan lain-lain) besarnya selalu sama. Artinya, biaya pemesanan tidak tergantung pada jumlah pemesanan melainkan pada berapa kali jumlah pemesanan.

Jika suatu barang diproduksi, perusahaan harus men-‘set up’ mesin dan fasilitas produksi lainnya, harus membuat rencana dan lain-lain yang biaya tersebut tidak akan berbeda untuk jumlah produksi yang berbeda.

Fakta lainnya, ada biaya yang berubah jika jumlah unit yang diproduksi atau dipesan berubah. Biasanya ini berbanding lurus dengan jumlah yang diproduksi. Termasuk dalam kategori ini adalah harga barang, biaya penyimpanan, biaya penanganan dan lain-lain.

Berdasarkan fakta ini, maka dapat dibuat generalisasi bahwa dalam setiap pemesanan atau pembuatan produk, biaya dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yaitu biaya tetap (fix cost) dan biaya variabel. Pada praktiknya, tidak semua biaya dapat dipisahkan secara ke dalam ke dua kategori tersebut.

Akibat adanya dua tipe biaya ini, maka biaya total (fix cost dan variabel cost) akan menjadi berbeda bila jumlah unit yang diproduksi berbeda. Bila barang yang diproduksi satu atau seribu, fix cost ini besarnya tetap. Selanjutnya, bila fix cost ini dibebankan pada biaya produksi per unit, maka fix cost ini akan dibagi oleh ‘jumlah unit’ yang diproduksi. Jadi, semakin banyak jumlah yang diproduksi, akan semakin kecil. Logikanya akan terdapat titik temu (optimal) agar total kedua biaya tersebut minimal.

Rumus :

Q* =

Di mana

A = order cost

D = permintaan per periode

I = holding cost ( dalam desimal )

C = harga per unit

Model ini dapat diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :

  1. Permintaan diketahui dengan pasti dan konstan selama periode persediaan
  2. Semua item yang dipesan diterima seketika, tidak bertahap.
  3. Jarak waktu sejak pesan sampai pesanan datang (lead time) pasti.
  4. Semua biaya diketahui dan bersifat pasti
  5. Kekurangan persediaan (stock out) tidak diizinkan.
  6. Tidak ada diskon dalam tingkat kuantitas pesanan.

Menentukan Kapan Melakukan Order

 Jika model EOQ diterapkan, maka faktor penting adalah lead time. Lead time adalah jarak waktu antara saat melakukan order hingga order datang. Setelah kuantitas pesanan diketahui, hal berikutnya adalah menetukan ‘reorder point’. Reorder point (ROP) atau R adalah menunjukkan suatu tingkat persediaan di mana pada saat itu harus dilakukan pesanan. Rumus reorder point (ROP/R) :

ROP    = d.L

Di mana :

ROP    = reorder point

 d          = permintaan harian

L          = lead time (satuannya sama dengan penyebut satuan d)

Memperkirakan Jarak Waktu Antarpesan

Jarak waktu antarpesanan dihitung dengan persamaan :

T          = WQ*/D

Dimana :

W        = jumlah hari kerja dalam satuan.

Model Economic Production Quantity (EPQ)

Model EOQ sederhana menganggap bahwa kuantitas yang dipesan akan diterima sekaligus (seketika) dalam suatu saat yang sama. Jika item diproduksi sendiri, umumnya pesanan tidak dapat datang sekaligus karena keterbatasan tingkat produksi. Persediaan akan tiba secara bertahap dan juga dikurangi secara bertahap karena untuk memenuhi kebutuhan. Logikanya, kecepatan produksi (p) harus lebih tinggi dari kecepatan pemakaian (d). Jika tidak akan ada stock out.

Untuk menghitung jumlah lot optimal untuk setiap kali produksi adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Q*       =

TIC      = A =

1.6.3    Peta-peta Kerja

1.6.3.1 Definisi Peta Kerja

Menganalisa suatu sistem kerja, berarti mencatat sistematis, meneliti seluruh kegiatan / operasi, serta menyajikan berbagai fakta dan spesifikasi kerja yang ada pada sistem kerja tersebut. Peta kerja umumnya merupakan alat yang sistematis dalam mengumpulkan semua fakta berkenaan dengan sistem kerja yang diamati, sehingga dapat digunakan untuk mengkomunikasikan fakta-fakta tersebut kepada orang lain.

Untuk bisa memahami fakta-fakta dengan baik, perlu ditinjau secara makro dan mikro. Peninjauan secara makro berarti fakta-fakta yang ada di tinjau secara menyeluruh antar sistem kerja. Sementara secara mikro, fakta-fakta yang ada ditinjau secara terperinci di setiap sistem kerja. Kedua cara peninjauan ini dipenuhi dengan menggunakan peta-peta kerja yang memang pada dasarnya dibagi dalam dua kelompok besar. Pertama, peta-peta kerja yang menganalisis secara keseluruhan (makro) dan kedua, peta-peta kerja yang menganalisis kerja setempat (mikro), dengan demikian peta-peta kerja sangat berguna untuk mengumpulkan fakta-fakta dan penyajiannya dalam langkah penganalisisan masalah. (sutalaksana, 2006:hal 15)

1.6.3.2 Lambang-lambang yang digunakan

Berikut ini merupakan lambang-lambang yang digunakan dalam pembuatan peta proses operasi, yaitu :

Operasi

Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat, baik fisik maupun kimiawi, mengambil informasi maupun memberikan informasi pada suatu keadaan juga termasuk operasi. Operasi merupakan kegiatan yang paling banyak terjadi dalam suatu proses. Dan biasanya terjadi pada suatu mesin atau sistem kerja.

Pemeriksaan / Inspeksi

Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja tau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Lambang ini digunakan jika kita melakukan pemeriksaan terhadap suatu obyek atau membandingkan obyek tertentu dengan suatu standar.

Penyimpanan (Storage)

Proses penyimpanan terjadi apabila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama. Jika benda tersebut akan diambil kembali, biasanya memerlukan suatu prosedur perijinan tertentu. Lambang ini digunakan untuk menyatakan suatu obyek yang mengalami penyimpanan permanen, yaitu ditahan atau dilindungi terhadap pengeluaran tanpa ijin tertentu.

Aktifitas Gabungan

Kegiatan ini terjadi apabila antara aktifitas operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan atau dilakukan pada suatu tempat kerja.

Transportasi

Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.

Menunggu

Proses menunggu sedang terjadi apabila benda kerja, pekerja ataupun perlengkapan tidak mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu (biasanya sebentar). Kejadian ini menunjukkan bahwa suatu obyek ditinggalkan untuk sementara waktu tanpa pencatatan sampai diperlukan kembali.

Klasifikasi Peta Kerja

Peta-peta kerja pada saat ini dapat dikasifikasikan berdasarkan kegiatan kerja yang ada pada sebuah sistem kerja, sehingga hasil dari proses pemetaan sistem kerja yang ada pada suatu proses produksi dapat memberikan informasi mendetail yang berguna untuk mengidentifikasikan permasalahan yang ada, sehingga dapat diperoleh langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki sistem kerja tersebut.

Peta-peta Kerja Keseluruhan

Berikut ini merupakan jenis peta-peta kerja keseluruhan :

  1. Peta Proses Operasi

Suatu peta proses operasi menggambarkan langkah-langkah operasi dan pemeriksaan yang dialami bahan (atau bahan-bahan) dalam urut-urutannya sejak awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun sebagai bagian setengah jadi. Peta ini juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis lebih lanjut, seperti : waktu yang dihabiskan atau terpakai, material yang digunakan dan tempat serta alat atau mesin yang dipakai. Sesuai dengan relevansinya, pada akhir keseluruhan proses dinyatakan keberadaan penyimpanan.

  1. Peta Aliran Proses

peta aliran proses adalah suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama suatu proses atau prosedur yang berlangsung. Di dalamnya dimuat pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis seperti waktu yang dibutuhkan dan jarak perpindahan yang terjadi. Waktu, biasanya dinyatakan dalam jam atau menit, sementara jarak perpindahan biasanya dinyatakan dalam meter.

  1. Diagram Aliran

Diagran aliran merupakan suatu gambaran menurut skala, dari susunan lantai dan gedung yang menunjukkan lokasi tertentu dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses. Aktivitas, yang berarti pergerakan suatu material atau orang dari suatu tempat ke tempat berikutnya, dinyatakan oleh garis aliran dalam diagram tersebut. Arah aliran digambarkan oleh anak panah kecil pada garis aliran tersebut.

Peta Kerja Setempat

Peta kerja setempat digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat. Suatu jenis kegiatan disebut sebagai kegiatan kerja setempat, bila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Berikut ini merupakan peta kerja setempat :

  1. Peta Pekerja-Mesin

Filosofi dasar dari peta pekerja-mesin ini adalah merupakan hubungan interaksi antara operator dan mesin seiring bekerja secara silih berganti, yaitu sementara mesin menganggur, operator bekerja atau sebaliknya. Waktu menganggur adalah suatu kerugian. Oleh karena itu, waktu menganggur baik pada pekerja maupun pada mesin harus dihilangkan atau setidaknya diminimumkan. Namun, ternyata harus masih berada dalam batas-batas kemampuan manusia dan mesinnya. Lambang-lambang yang dipakai peta pekerja-mesin ini berbeda dengan jenis peta kerja lainnya, seperti terlihat dibawah ini :

Menunjukkan Waktu Menganggur

Digunakan untuk menyatakan pekerja atau mesin yang sedang menganggur atau salah satu sedang menunggu yang lain.

Menunjukkan kerja Independen

Jika ditinjau dari pekerja, keadaan ini menunjukkan keadaan seorang pekerja yang sedang bekerja dan independen dengan mesin dan pekerja lainnya.

Menunjukkan kerja kombinasi

Jika ditinjau dari pihak pekerja, lambang ini digunakan apabila di antara operator dan mesin atau dengan operator lainnya sedang bekerja bersama-sama. Jika ditinjau dari pihak mesin, berarti : selama bekerjanya, mesin tersebut memerlukan pelayanan dari operator (mesin manual).

BACA JUGA :

Cara Penyusunan Proposal Seminar I

DOWNLOAD :

Versi ASLI Dokumen :

COVER PROPOSAL SEMINAR I

PROPOSAL-SEMINAR-I

No comments yet.

Leave a Reply